Artikel
Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang
23 June 2007 | Posted by Administrator

Profesor Toshiko Kinosita mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang (Kompas, 24 Mei 2002).

Pendapat Guru Besar Universitas Waseda Jepang tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat saat ini pemerintah Indonesia mulai melirik pendidikan sebagai investasi jangka panjang, setelah selama ini pendidikan terabaikan. Salah satu indikatornya adalah telah disetujuinya oleh MPR untuk memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN atau APBD. Langkah ini merupakan awal kesadaran pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka pangjang. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.

Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.

Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini. Di Amerika Serikat (1992) seseorang yang berpendidikan doktor penghasilan rata-rata per tahun sebesar 55 juta dollar, master 40 juta dollar, dan sarjana 33 juta dollar. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia. Misalnya rata-rata, antara pedesaan dan perkotaan, pendapatan per tahun lulusan universitas 3,5 juta rupiah, akademi 3 juta rupiah, SLTA 1,9 juta rupiah, dan SD hanya 1,1 juta rupiah.

Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. (Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA: University of Illionis, 1982, h.121).

Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.
Nilai

Balik Pendidikan
Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisik yaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan: Isu, Teori dan Aplikasi. Balai Pustaka: Jakarta, 1999, h.247).

Pilihan investasi pendidikan juga harus mempertimbangkan tingkatan pendidikan. Di Asia nilai balik sosial pendidikan dasar rata-rata sebesar 27 %, pendidikan menengah 15 %, dan pendidikan tinggi 13 %. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka manfaat sosialnya semakin kecil. Jelas sekali bahwa pendidikan dasar memberikan manfaat sosial yang paling besar diantara tingkat pendidikan lainnya. Melihat kenyataan ini maka struktur alokasi pembiayaan pendidikan harus direformasi. Pada tahun 1995/1996 misalnya, alokasi biaya pendidikan dari pemerintah Indonesia untuk Sekolah Dasar Negeri per siswa paling kecil yaitu rata-rata hanya sekirat 18.000 rupiah per bulan, sementara itu biaya pendidikan per siswa di Perguruan Tinggi Negeri mendapat alokasi sebesar 66.000 rupiah per bulan. Dirjen Dikti, Satrio Sumantri Brojonegoro suatu ketika mengemukakan bahwa alokasi dana untuk pendidikan tinggi negeri 25 kali lipat dari pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang lebih banyak dialokasikan pada pendidikan tinggi justru terjadi inefisiensi karena hanya menguntungkan individu dan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Reformasi alokasi biaya pendidikan ini penting dilakukan mengingat beberapa kajian yang menunjukkan bahwa mayoritas yang menikmati pendidikan di PTN adalah berasal dari masyarakat mampu. Maka model pembiayaan pendidikan selain didasarkan pada jenjang pendidikan (dasar vs tinggi) juga didasarkan pada kekuatan ekonomi siswa (miskin vs kaya). Artinya siswa di PTN yang berasal dari keluarga kaya harus dikenakan biaya pendidikan yang lebih mahal dari pada yang berasal dari keluarga miskin. Model yang ditawarkan ini sesuai dengan kritetia equity dalam pembiayaan pendidikan seperti yang digariskan Unesco.

Itulah sebabnya Profesor Kinosita menyarankan bahwa yang diperlukan di Indonesia adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Proses pendidikan pada pendidikan dasar setidaknnya bertumpu pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, leraning to be dan learning live together yang dapat dicapai melalui delapan kompetensi dasar yaitu membaca, menulis, mendengar, menutur, menghitung, meneliti, menghafal dan menghayal. Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Selain itu pendidikan dasar seharusnya ?benar-benar? dibebaskan dari segala beban biaya. Dikatakan ?benar-benar? karena selama ini wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah gratis. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Fungsi

Non Ekonomi
Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C: The Palmer Press, 1996, h.7).

Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.

Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.

Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.

Kesimpulan
Jelaslah bahwa investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Selama orde baru kita selalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu hancur lebur karena tidak didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berpendidikan. Orde baru banyak melahirkan orang kaya yang tidak memiliki kejujuran dan keadilan, tetapi lebih banyak lagi melahirkan orang miskin. Akhirnya pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati sebagian orang dan dengan tingkat ketergantungan yang amat besar.

Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik. Inilah saatnya bagi negeri ini untuk merenungkan bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik untuk mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pendidikan juga sebagai alat pemersatu bangsa yang saat ini sedang diancam perpecahan. Melalui fungsi-fungsi pendidikan di atas yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan maka negeri ini dapat disatukan kembali. Dari paparan di atas tampak bahwa pendidikan adalah wahana yang amat penting dan strategis untuk perkembangan ekonomi dan integrasi bangsa. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama.

Bila demikian, ke arah mana pendidikan negeri ini harus dibawa? Bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik? Marilah kita renungkan bersama.

 

Artikel by Kategori

Agama

  • islam oleh Abudurrakhman sidiq
  • islam oleh Abudurrakhman sidiq
  • Ekonomi

  • Balanced Scorecard oleh Gerilyansyah Basrindu
  • Internet

  • Apa itu LINUX oleh Mukhlan Khariry, SE
  • Kebijakan

  • EVALUASI TERHADAP REALISASI PROGRAM PEMBANGUNAN BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA BANJARBARU oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • Materi Kuliah oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Implementasi dan Implikasi Kebijakan Daerah terhadap Kewirausahaan Masyarakat Lokal oleh Drs. H. M. Sayuti Enggok, MP
  • Isu-isu Kebijakan oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PENERAPAN GOOD GOVERNANCE oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PENGEMBANGAN MODEL CITIZEN'S CHARTER DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Kisah Teladan

  • Ketokohan masyarakat lingkungan tetangga oleh Masruf Baderi
  • Ketokohan masyarakat lingkungan tetangga oleh Masruf Baderi
  • Olah Raga

  • tennis oleh Widarto
  • tennis oleh Widarto
  • Pendidikan

  • Kiat Belajar Efisien dan Efektif oleh Muhammad Akbar
  • itu oleh Abudurrakhman sidiq
  • Manajemen BUMN/D oleh Singgih Priono
  • Menciptakan Lulusan Perguruan Tinggi Pencipta Kerja Melalui Entrepreneurship oleh Administrator
  • SAP IAD oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • kONTINGENSI KEPEMIMPINAN oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Sosok Manajemen Pendidikan Tinggi oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PERAN SPIRITUALITAS (Agama) DALAM PENYELENGGARAAN KEPEMIMPINAN oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang oleh Administrator
  • Politik

  • Reposisi Nilai-Nilai Penegakan Hukum oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • Seni & Budaya

  • Kumpulan puisi oleh Dwie Ermawati
  • Tips Cara Menyeberang Jalan Yang Benar oleh Ahmad Rizqoni
  • Budaya Kewirausahaan Masyarakat Lokal oleh Drs. H. M. Sayuti Enggok, MP
  • Soal

  • Bentuk Soal oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Sosial

  • ORGANISASI oleh Akhmad Abdurahman
  • MEWUJUDKAN KAMPUS YANG DAMAI oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • KELAYAKAN DALAM PEMBERIAN KOMPENSASI oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • MATERI IAD I - IV oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Materi SIM oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • KONTEKS KEBIJAKAN PUBLIK oleh Irawanto, S. Sos, MSi


  • Artikel by Penulis

    Abudurrakhman sidiq

  • islam oleh Abudurrakhman sidiq
  • islam oleh Abudurrakhman sidiq
  • itu oleh Abudurrakhman sidiq
  • Ade Hermawan, S. Sos, MAP

  • Reposisi Nilai-Nilai Penegakan Hukum oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • MEWUJUDKAN KAMPUS YANG DAMAI oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • KELAYAKAN DALAM PEMBERIAN KOMPENSASI oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • EVALUASI TERHADAP REALISASI PROGRAM PEMBANGUNAN BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA BANJARBARU oleh Ade Hermawan, S. Sos, MAP
  • Administrator

  • Menciptakan Lulusan Perguruan Tinggi Pencipta Kerja Melalui Entrepreneurship oleh Administrator
  • Pendidikan Sebagai Investasi Jangka Panjang oleh Administrator
  • Ahmad Rizqoni

  • Tips Cara Menyeberang Jalan Yang Benar oleh Ahmad Rizqoni
  • Akhmad Abdurahman

  • ORGANISASI oleh Akhmad Abdurahman
  • Drs. H. M. Sayuti Enggok, MP

  • Budaya Kewirausahaan Masyarakat Lokal oleh Drs. H. M. Sayuti Enggok, MP
  • Implementasi dan Implikasi Kebijakan Daerah terhadap Kewirausahaan Masyarakat Lokal oleh Drs. H. M. Sayuti Enggok, MP
  • Dwie Ermawati

  • Kumpulan puisi oleh Dwie Ermawati
  • Gerilyansyah Basrindu

  • Balanced Scorecard oleh Gerilyansyah Basrindu
  • Irawanto, S. Sos, MSi

  • MATERI IAD I - IV oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Materi SIM oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • SAP IAD oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Materi Kuliah oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Isu-isu Kebijakan oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • kONTINGENSI KEPEMIMPINAN oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Sosok Manajemen Pendidikan Tinggi oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • MANAJEMEN PELAYANAN PUBLIK oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PENERAPAN GOOD GOVERNANCE oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PERAN SPIRITUALITAS (Agama) DALAM PENYELENGGARAAN KEPEMIMPINAN oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • PENGEMBANGAN MODEL CITIZEN'S CHARTER DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Bentuk Soal oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • KONTEKS KEBIJAKAN PUBLIK oleh Irawanto, S. Sos, MSi
  • Masruf Baderi

  • Ketokohan masyarakat lingkungan tetangga oleh Masruf Baderi
  • Ketokohan masyarakat lingkungan tetangga oleh Masruf Baderi
  • Muhammad Akbar

  • Kiat Belajar Efisien dan Efektif oleh Muhammad Akbar
  • Mukhlan Khariry, SE

  • Apa itu LINUX oleh Mukhlan Khariry, SE
  • Singgih Priono

  • Manajemen BUMN/D oleh Singgih Priono
  • Widarto

  • tennis oleh Widarto
  • tennis oleh Widarto

  • STIA Bina Banua Banjarmasin adalah satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta yang BERAKREDITASI untuk Program Pascasarjana di Kallimantan dan menjadi Perguruan Tinggi keempat yang memperoleh Akreditasi Nasional di Kalimantan

    Berita photo

    Tanggal 21 Agustus Pimpinan STIA Bina Banua Banjarmasin melakukan Yudisium sebanyak 117 orang mahasiswa Penyumbang Emas Kalsel di POMNAS X adalah Mahasiswa STIA Bina Banua Suasana Parkir STIA Saat UAS 2009 Suasana Ujian Akhir Semester 2008 Pelantikan Ketua STIA Bina Banua Tiga Jagoan mahasiswa STIA Bina Banua yang menyumbangkan medali (2 Emas dan 1 perak) bagi Kalimantan Selatan dalam POMNas X yang diselenggarakan di Banjarmasin Pada tanggal 23 September 2008 Bank Tabungan Negara Cab. Banjarmasin melakukan Presentase terkait sistem pembayaran SPP/BPP mahasiswa yang menggunakan sistem online. Mahasiswa STIA Bina Banua melakukan kunjungan ke DPRD Kab. Banjar pada tanggal 25 Pebruari 2009, dalam kunjungan tersebut mahasiswa banyak melakukan tanya jawab terhadap tugas dan fungsi Anggota Dewan SMK Bina Banua terbakar. SMK ini berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Bina Banua yang juga menaungi STIA Bina Banua Banjarmasin Acara Mahasiswa STIA Bina Banua Banjarbaru setelah selesai UAS Wawancara Duta TV dengan Ketua STIA Bina Banua dan Puket I (Bapak Gerilyansyah Basrindu dan Irawanto) pada acara DIES NATALIS STIA Bina Banua Banjarmasin tanggal 15 juni 2008 Seminar Internasional Administrasi Bisnis mendatangkan Pakar dari University Utara Malaysia dan Direktur Pemasaran Jiwasraya yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 28 Agustus 2008 Gedung Utama STIA Peresmian Masjid Madani Bina 
<br>Banua oleh Wagub Kalsel Rosehan NB Jumat 24 Agustus 2007 Bentuk Kepedulian STIA Bina Banua terhadap Mahasiswa, karyawwan dan Dosen tanggal 8 September dilakukan Sosialisasi tentang Kanker Perkuliahan Perdana Mahasiswa Program Pascasarjana STIA Bina Banua Banjarmasin Tahun Akademik 2009/2010 Ketua Drs. H. Gerilyansyah Basrindu,MM memberikan materi Sejarah Berdirinya STIA Bina Banua Banjarmasin pada acara Program Pengenalan Kampus tanggal 8 September 2007 KUNJUNGAN STUDI BANDING MAHASISWA S2 PROGRAM PASCASARJANA STIA BINA BANUA  KE UB MALANG Pada Hari Selasa tanggal 23 September setelah mendengarkan presentase dari pihak BTN langsung dilakukan kegiatan presentase dari Pihak Telkom Flexi Banjarmasin terkait dengan rencana dari Pihak STIA Bina menggunakan salah satu produk CUG dari Telkom Flexi Saat Sosialisasi Program Pascasarjana di Kabupaten Tabalong tanggal 29 Juli 2009 di Aula Pemerintahan Kabupaten Tabalong
    Head office & Contact
    Jl. Pramuka No. 17 Banjarmasin
    0511-3255145
    info@stiabinabanua.ac.id
    Created &
    Developed by

    Magfiroh, S. Ag
    magfiroh@yahoo.com
    0511 724 62 37
    0813 511 97 147